📜 Nasib Singkat Film Wasiat Warisan di Bioskop Kota Semarang: Hanya Numpang Lewat Dua Hari?
Kami cukup heran mendapati film Wasiat Warisan yang rilis awal Desember 2025 kemarin gagal total di bioskop Kota Semarang. Padahal, film bergenre drama keluarga ini dibalut dengan kemegahan visual Danau Toba dan Pulau Samosir yang memanjakan mata. Daftar pemainnya pun tidak kaleng-kaleng; ada nama besar seperti Derby Romero, Astrid Tiar, hingga Sarah Sechan. Lantas, apa yang salah?
Ketika film Agak Laen 2 masih jadi perbincangan hangat karena kesuksesannya memecahkan rekor, kami malah kepikiran dengan karya sutradara Agustinus Sitorus ini. Awalnya, kami sangat optimis film ini minimal bisa bertahan sepekan di Semarang, apalagi membawa pesan moral yang kuat tentang nilai kebersamaan dan tanggung jawab keluarga.
Segmen penontonnya pun jelas, kategori remaja (13+). Artinya, film ini diharapkan mampu meraup massa dari kalangan Gen Z. Namun sayang beribu sayang, harapan kami tertanggalkan. Sampai-sampai kami sempat mengira ada kesalahan mata saat mengecek jadwal tayang yang tiba-tiba hilang dalam dua hari saja.
Film Wasiat Warisan tayang hari ini, Kamis tanggal 4 Desember 2025. Berdurasi 116 menit, film bergenre drama ini berkategori remaja (13+).
— Kofindo (@Kofindo) December 4, 2025
Produksi PIM Pictures, Dynamic Pictures, Layar Production.#FilmIndonesia #Kofindo pic.twitter.com/elJgQStg7X
Indah Saja Ternyata Tidak Cukup
Meski hanya sempat mengintip lewat trailer-nya, kami menyadari satu hal: keindahan visual ternyata tidak lagi menjadi magnet utama bagi penonton layar lebar saat ini. Masyarakat sekarang sudah "kenyang" dengan pemandangan cantik lewat media sosial atau YouTube.
Melihat Danau Toba di layar bioskop memang patut diapresiasi, namun tanpa "kaitan batin" dengan ceritanya, penonton akan merasa lebih baik menonton vlog travel saja. Ada semacam keengganan untuk membayar tiket bioskop demi "pemandangan" jika konflik ceritanya tidak menyentuh realitas hidup mereka, terutama bagi masyarakat di Jawa Tengah.
Fenomena "Gap Emosional" dan Lokalitas
Ada alasan mendasar mengapa kami menyebutnya fenomena gap emosional. Di Semarang, isu warisan biasanya dibicarakan di ruang tertutup dengan penuh kehati-hatian, khas budaya Jawa yang cenderung mendhem jero. Sementara dalam film ini, konflik warisan menjadi konsumsi publik yang frontal.
Ketidaknyamanan bawah sadar inilah yang mungkin membuat penonton lokal sulit merasa relate. Mereka tidak menemukan cerminan diri dalam karakter Tarida atau Togar. Ditambah lagi, kemasan film yang sangat "Medan-sentris" tanpa jembatan komunikasi yang kuat ke penonton Jawa membuat film ini akhirnya hanya terasa seperti tamu yang sekadar numpang lewat.
Ibarat sebuah ruang tamu, jika kita mengundang orang yang bicaranya tidak kita pahami frekuensinya, otomatis kita tidak akan betah duduk lama-lama. Itulah yang terjadi di bioskop-bioskop kita.
Branding yang Terputus di Mata Gen Z
Dari sisi akting, kualitas mereka tidak perlu diragukan. Namun jika bicara branding, kondisinya berbeda. Ambil contoh Fedi Nuril yang sukses mengubah citranya dari "Aktor Spesialis Poligami" menjadi pemain film horor; penonton sudah tahu apa yang akan mereka beli.
Sedangkan di film produksi kolaborasi PIM Pictures, Dynamic Pictures, dan Layar Production ini, penonton seolah kehilangan pegangan:
Derby Romero: Imej Sadam di Petualangan Sherina masih terlalu lekat. Transisinya ke peran dewasa yang serius di drama keluarga mungkin belum sepenuhnya "klik" di mata massa luas.
Sarah Sechan & Astrid Tiar: Keduanya lebih kuat sebagai Presenter/Host. Penonton butuh usaha ekstra untuk melihat mereka sebagai karakter cerita, bukan sebagai sosok yang biasa mereka lihat di talkshow.
Anak muda Semarang yang sering nongkrong di Paragon atau Citra cenderung mencari apa yang sedang trending di TikTok. Sayangnya, aktor kelas A ini lebih menjaga privasi dan kualitas, sementara di industri sekarang, kualitas seringkali harus mengalah pada popularitas instan. Tidak adanya sosok "Anchor" atau jangkar dari kalangan idola muda saat ini juga membuat fanbase film ini kurang masif untuk menggerakkan ribuan orang ke bioskop.
Strategi Marketing yang "Sunyi" di Bulan Berdarah
Terakhir, soal pemasaran. Harus diakui promo film ini terasa senyap di daerah. Tanpa adanya theater visit ke Semarang, antusiasme penonton lokal sulit dikerek. Desember adalah bulan "berdarah" di bioskop. Berhadapan langsung dengan euforia Agak Laen: Menyala Pantiku! yang meledak, penonton Semarang yang pragmatis tentu akan memilih yang paling ramai dibicarakan.
SUDAH KELUAR 📢
— Kofindo (@Kofindo) December 6, 2025
Hari ke-3, Sabtu (6/12), film Wasiat Warisan sudah keluar dari bioskop
1. Setiabudi
2. Uptown
Film bertahan 2 hari di Kota Semarang.
📝 Kami tidak yakin, mungkin website 21 sedang erorr.#Kofindo #Semarang
Ini menjadi potret nyata fenomena nasib film drama di tengah gempuran horor dan sekuel. Bahwa pemandangan indah dan akting watak terkadang harus kalah oleh hukum pasar yang kejam. Apakah ini sinyal bagi produser untuk mengubah cara promo di kota seperti Semarang, atau memang selera kita sudah bergeser total ke tema horor?
Artikel terkait :
- 🗓 Jadwal Bioskop Semarang: Kamis Minggu Pertama Bulan Desember 2025, Ada 4 Film Baru
- 🎬 Mengejutkan! Film Timur Sudah Turun Layar di Kota Semarang, Hanya Bertahan 10 Hari?
- 🎬 Perjalanan Tragis "Nia": Rilis di Tengah Gempuran Agak Laen 2, Aktris Kelahiran Semarang Itu Hanya Bertahan 1 Hari di Kotanya!
- 🥳 Rekor 49 Hari! Film Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung Bertahan Fantastis di Bioskop Semarang
- Lainnya

Komentar
Posting Komentar