🚨 [UPDATE] Tolong Saya! (Dowajuseyo) Ternyata Diputar di Bioskop NSC Mangkang Semarang
UPDATE (2 Februari 2026): > Mohon maaf, ada sedikit 'miscom' soal jadwal tayang film ini. Ternyata, Tolong Saya! (Dowajuseyo) sudah tayang di Semarang, tepatnya di NSC Mangkang sejak awal rilis! Kami sempat melewatkan informasinya karena judul 'Dowajuseyo' diletakkan di depan pada daftar jadwal. Jadi, buat kalian yang sudah nggak sabar, langsung saja meluncur ke arah barat kota ya!
Sejujurnya, saat pertama kali memantau daftar putar minggu ini, kami sempat agak kecewa dan menulis bahwa film horor Korea satu ini bakal absen menyapa penonton di Semarang. Maklum saja, dengan belum hadirnya jaringan CGV di kota kita, film-film distribusi tertentu seperti Tolong Saya! (Dowajuseyo) memang seringkali sulit diprediksi kehadirannya.
Namun, setelah menelisik lebih dalam ke sisi barat kota—tepatnya di NSC Mangkang—ternyata si "Dowajuseyo" ini sudah nangkring manis di sana. Jadi, ulasan di bawah ini tetap kami pertahankan sebagai pengingat betapa "tricky"-nya memantau judul film impor yang punya dua judul berbeda di daftar jadwal.
...
Belum genap satu bulan tahun 2026 berjalan, daftar film yang "melompati" Kota Semarang ternyata sudah bertambah. Kami tidak menyangka kuota ini akan terisi secepat ini. Apalagi, film yang kami bicarakan kali ini bukanlah film dengan segmentasi lokal kedaerahan yang kental seperti rilisan dari Sulawesi. Ini film yang ada "bau" Korea-nya, lho.
Kamis di minggu terakhir Januari 2026, bioskop di Semarang kembali harus absen menayangkan film terbaru. Adalah Tolong Saya! (Dowajuseyo), film berdurasi 93 menit yang sebenarnya punya daya tarik kuat karena merupakan hasil kolaborasi dua negara: Indonesia dan Korea Selatan.
Mitos Urban Korea dan Isu Sosial
Setelah kami telusuri lebih dalam, film ini bukan sekadar horor biasa. Tolong Saya! lebih menonjolkan sisi horor psikologis dan trauma. Premisnya mengangkat mitos urban populer di Korea Selatan mengenai larangan menolong orang asing di malam hari.
Ada kepercayaan di sana bahwa niat baik membantu orang asing di waktu tertentu justru bisa "membuka pintu" bagi makhluk dari dunia lain untuk mencampuri hidup kita. Sebuah tawaran cerita yang segar dan berbeda, bukan? Jauh dari sekadar hantu penunggu pohon keramat atau rumah tua yang sudah sering kita temui di layar lebar lokal.
Tak hanya soal teror, film ini juga menyisipkan pesan moral yang kuat. Di dalamnya terdapat isu sensitif mengenai perundungan (bullying) dan kekerasan seksual. Arwah Min Yong dalam film ini digambarkan bukan sekadar hantu yang hobi menakut-nakuti, melainkan representasi korban yang menuntut keadilan.
Kenapa Semarang Dilewati?
Meski membawa latar Korea yang estetik (syuting langsung di Busan!) dan alur cerita yang apik, hal itu ternyata tidak menjamin film yang disutradarai Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca ini mendapatkan layar di seluruh jaringan bioskop.
Kota Semarang justru menjadi salah satu kota yang tidak memutarnya saat dirilis serentak Kamis, 29 Januari 2026 kemarin. Kami paham bahwa selera penonton di Ibu Kota Jawa Tengah ini memang unik, namun apakah itu satu-satunya alasan pihak bioskop enggan memboyongnya ke sini?
Ternyata, ada peran pihak lain yang tak kalah krusial selain pihak bioskop: yaitu Distributor.
Di Semarang, persaingan memperebutkan layar itu sangat kejam. Jika distributor datang dengan modal promosi yang pas-pasan, film mereka dipastikan akan tenggelam oleh judul-judul blockbuster yang balihonya sudah gagah berdiri di jalanan protokol sejak berminggu-minggu sebelumnya.
Realitas Bisnis Layar Bioskop
Pihak bioskop memang punya kuasa menentukan jadwal tayang, namun distributorlah yang harus "mengetuk pintu" dan menawarkan filmnya. Distributor raksasa biasanya memiliki daya tawar yang sangat kuat untuk mengamankan slot di mall-mall premium Semarang.
Sebaliknya, distributor dengan skala lebih kecil harus melakukan kalkulasi ekstra terkait biaya logistik—seperti pengiriman materi (DCP)—hingga biaya promosi lokal. Jika budget mereka dirasa tidak sanggup "meneriakkan" judul film di tengah hiruk-pikuk promosi film besar di Semarang, mereka cenderung melakukan langkah mundur secara strategis.
Menayangkan film di kota besar menuntut tanggung jawab promosi yang tinggi agar kursi tidak kosong. Jika dana tidak mencukupi untuk aktivasi atau iklan yang masif di Semarang, distributor lebih memilih "melipir" ke kota penyangga seperti Kendal atau Demak. Di sana, "persaingan suara" tidak terlalu bising, sehingga film mereka bisa menjadi primadona tanpa harus adu kekuatan modal.
Hari ini, kami belajar lagi satu hal tentang alasan di balik film yang tayang terbatas. Meski warga Semarang harus rela gigit jari (atau mungkin melipir sedikit ke Kendal), kami berharap film Tolong Saya! (Dowajuseyo) tetap meraih sukses di kota-kota yang menayangkannya.
![]() |
| Screenshoot IG nscmangkang |
[Update & Penutup]
Akhirnya, misteri "absennya" film ini di Semarang terpecahkan. Ternyata kami yang kurang jeli melihat daftar jadwal, karena penulisan judul Dowajuseyo diletakkan di bagian depan sebelum judul Tolong Saya!.
Kabar baiknya, film ini sudah bisa kalian tonton di NSC Mangkang. Hal ini kembali membuktikan bahwa bioskop di pinggiran kota seringkali memberikan kejutan dan menjadi penyelamat yang solid bagi para penikmat film di Semarang—terutama sebagai alternatif pilihan layar di saat kita masih harus bersabar menanti kehadiran CGV di kota ini.
Jadi, buat kamu yang kemarin sempat kecewa karena mengira film ini tidak mampir ke Semarang, yuk langsung saja agendakan ke Mangkang. Sampai jumpa di depan layar perak!
Artikel terkait :
- 🗓 Daftar Film Indonesia yang Rilis 29 Januari 2026 di Bioskop Kota Semarang
- ✉️ Uang Passolo, Film Pertama yang Tidak Tayang di Bioskop Kota Semarang Tahun 2026
- 👻 Leak 2 (Jimat Dadong): Film Horor Bali yang Lolos dari Bioskop Semarang
- Ironi Solata di Bioskop Semarang: Dijuluki 'Laskar Pelangi Toraja' Tapi Kalah Sama Film Horor
- Lainnya


Komentar
Posting Komentar