🎬 Menanti Oase Film Lokal di NSC Mangkang: Harapan yang Masih Menjadi PR
Sudah satu setengah tahun berlalu sejak kunjungan perdana kami ke bioskop ke-12 di Kota Semarang ini. Ada ekspektasi besar yang kami sematkan waktu itu. Maklum, embel-embel sebagai bioskop independen dan jaringan lokal membawa angin segar bagi alternatif tontonan di Kota Atlas. Namun sayangnya, awal tahun 2026 ini harapan itu seolah kembali diuji. Ada apa sebenarnya?
Dejavu di Awal Tahun 2026
Membuka lembaran tahun 2026, pecinta film di Semarang rupanya harus kembali gigit jari. Satu judul film Indonesia terbaru—kali ini dengan latar budaya Sulawesi yang kuat—terpaksa absen dari layar bioskop lokal. Cerita lama yang kami pikir takkan terulang lagi di tahun ini, nyatanya kembali menyapa.
NSC Mangkang: Antara Oase dan Realitas Bisnis
Pikiran ini sebenarnya sudah terlintas sejak NSC Mangkang resmi beroperasi. Kehadirannya kami anggap sebagai "mata air di padang pasir" di tengah dominasi jaringan nasional seperti XXI dan Cinepolis yang seringkali selektif.
Kami menyadari, jaringan bioskop besar di Semarang memang tergolong "pelit" memberikan jatah layar untuk film-film dengan segmentasi khusus. Kami tidak sepenuhnya menyalahkan mereka dari sisi bisnis, karena bagaimanapun, mereka paling memahami karakteristik penonton di Semarang.
Di sinilah NSC Mangkang diharapkan menjadi pembeda. Film-film dengan sentuhan lokal yang kental, seperti karya-karya dari Makassar, seharusnya mendapatkan panggung di sini tanpa harus bersaing ketat dengan blockbuster Hollywood.
Catatan Perjalanan: Menuju NSC Mangkang memang butuh perjuangan ekstra. Bagi kami yang mengandalkan Bus Trans Semarang, estimasi waktu adalah kunci agar tidak tertinggal jadwal tayang.
Fenomena "Sama Saja"
Sepanjang tahun 2025, banyak film lokal yang dirilis terbatas di tanah air. Kami sempat optimis Pekerjaan Rumah (PR) distribusi film ini bakal tuntas. Namun, polanya masih sama. Meski tidak semua film lokal absen, pasti ada saja satu atau dua judul yang "nyangkut" dan tidak mampir ke Semarang.
Pada akhirnya, kehadiran NSC terasa setali tiga uang dengan jaringan besar lainnya. Ketiganya tetap melakukan kurasi yang ketat. Faktor-faktor seperti:
Minimnya minat penonton lokal.
Faktor lobi antara rumah produksi dan pihak bioskop.
Pertimbangan okupansi kursi yang sepi.
Padahal, beberapa film lokal tersebut terbukti menjadi raja di daerah asalnya sendiri.
...
Dengan absennya satu film lokal di awal Januari ini, tampaknya daftar PR kami tidak akan selesai dalam waktu dekat. Memang sulit menaruh harapan besar di saat ekosistem penontonnya sendiri masih fluktuatif.
Semoga saja ke depannya, daftar film yang "skip" dari layar bioskop Kota Semarang tidak lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya. Kita tunggu saja bagaimana sisa tahun 2026 berjalan.
Artikel terkait :

Komentar
Posting Komentar