π΄ Pocong Merah: Teror Balas Dendam dari Ajibarang yang Tayang Terbatas
Kami sempat dibuat kaget. Pasalnya, judul film ini tidak tertera di beberapa akun X (Twitter) yang biasa kami ikuti saat membagikan jadwal rilisan film baru. Bahkan, kami sendiri melewatkannya saat hari penayangan perdana, Kamis, 19 Februari 2026 kemarin. Penasaran?
Jujur saja, kami baru mengetahuinya melalui bantuan AI saat sedang menyusun daftar film Indonesia minggu ketiga bulan Februari untuk wilayah Kota Semarang. Nama Pocong Merah muncul di sana. Karena merasa asing, kami langsung meluncur ke akun Instagram resminya, @filmpocongmerah. Dan benar saja, di kolom bionya tertulis jelas: 19 Februari 2026 di Bioskop.
Antara Judul Unik dan Risiko Komedi
Sebelum membahas mengapa distribusinya terasa sangat eksklusif, mari kita bedah dulu filmnya. Menggunakan judul yang spesifik dengan menyebut warna atau atribut tertentu sebenarnya punya tantangan berat. Jika tidak dieksekusi dengan sangat ikonik, risikonya bisa jatuh menjadi film komedi yang tidak sengaja.
Namun, saat kami mengintip video trailernya, kesan seram itu memang nyata. Apalagi kisahnya terinspirasi dari peristiwa kelam yang pernah terjadi di Kaliboyong, Yogyakarta, tentang penghakiman brutal warga terhadap terduga dukun santet. Dendam inilah yang kemudian memicu teror sang Pocong Merah.
Menariknya, warna merah di sini bukan sekadar gaya-gayaan. Menurut sang sutradara, itu adalah kain putih yang berubah menjadi merah pekat karena bersimbah darah. Sosok Katiyem, sang tokoh utama, dikisahkan tewas secara tragis akibat mutilasi. Sebuah detail yang cukup "berani" dan brutal untuk ukuran horor lokal.
Sinopsis: Dendam Katiyem yang Belum Usai
Cerita berpusat pada sosok Katiyem, seorang perempuan yang dituduh sebagai dukun santet di desanya. Tuduhan tak berdasar ini memicu amarah warga yang kemudian main hakim sendiri dengan sangat keji. Katiyem tewas mengenaskan, dan tubuhnya dibungkus kain kafan yang kemudian memerah pekat akibat luka-lukanya.
Namun, kematian Katiyem justru menjadi awal malapetaka. Teror mulai menghantui desa ketika sosok Pocong Merah muncul menuntut balas satu per satu kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tersebut.
Di sisi lain, penonton akan dibawa masuk ke konflik batin sang anak (diperankan oleh Adinda Halona) yang sulit menerima kematian ibunya. Rasa kehilangan yang mendalam membawanya ke persimpangan jalan: membiarkan sang ibu beristirahat dengan tenang, atau justru terjerumus dalam ritual gelap untuk "menahan" sang ibu tetap di dunia. Keputusan yang pada akhirnya justru mengundang bencana lebih besar bagi seluruh desa.
Tayang Terbatas: Belum Mampir ke Semarang
Film berdurasi 83 menit ini tidak hanya mengandalkan jumpscare, tapi juga menyelipkan pesan moral tentang hubungan ibu dan anak. Sayangnya, peredaran film produksi Checklist Cinema ini masih sangat terbatas di kota-kota tertentu.
Kota Semarang dipastikan belum ambil bagian dalam jadwal tayangnya. Karena film ini merupakan karya kebanggaan sineas asal Ajibarang, Jawa Tengah, distribusinya saat ini lebih difokuskan ke daerah asalnya seperti Banyumas, Purwokerto, dan Cilacap.
Jika di kota atau daerahmu kebetulan ada penayangan film Pocong Merah, tidak ada salahnya menyisihkan waktu untuk menonton. Kami di Semarang sendiri masih harus bersabar karena belum bisa menikmatinya di layar lebar terdekat.
Semoga film ini sukses meraup banyak penonton, sehingga ke depannya bisa diputar di jaringan bioskop besar nasional secara merata. Maju terus sineas daerah!
Artikel terkait :
- π [Jadwal] Bioskop Semarang Minggu ke-3 Februari 2026: Dominasi Horor di Awal Ramadan
- π» Malam 3 Yasinan: Menakar Nyali Film Horor Pertama Tahun 2026 di Kota Semarang
- ✉️ Uang Passolo, Film Pertama yang Tidak Tayang di Bioskop Kota Semarang Tahun 2026
- π» Esok Tanpa Ibu (Mothernet): Ketika Kecerdasan Buatan Mencoba Menggantikan Kasih Sayang
- Lainnya

Komentar
Posting Komentar