👻 Menakar Standar Baru Horor Lokal lewat Kuyank (Saranjana The Prequel)
Ada yang menarik perhatian kami dari film Kuyank. Jika memperhatikan posternya secara detail, penggunaan huruf "K" di akhir kata "Kuyank" seolah memberikan identitas baru yang berbeda. Ditambah lagi dengan sub-judul yang cukup mencolok: Saranjana The Prequel. Sebuah label yang seketika memancing rasa penasaran, terutama bagi kami yang mengikuti perkembangan sinema horor di tanah air.
Rilis tepat di penghujung Januari, atau tepatnya 29 Januari 2026, film ini menjadi salah satu penghuni layar lebar yang meramaikan bioskop-bioskop di Kota Semarang. Meski kita masih harus bersabar menunggu kehadiran CGV di kota ini, namun bioskop yang ada sudah cukup mumpuni untuk menyaksikan ambisi besar dari Johansyah Jumberan selaku sutradara.
Visi Jangka Panjang dan Standar Baru
Film berdurasi 98 menit ini tidak hanya sekadar menjual rasa takut. Kami melihat ada misi serius untuk memperkenalkan budaya Kalimantan sekaligus menetapkan standar baru bagi industri film lokal. Standar di mana konsistensi dan visi jangka panjang menjadi harga mati.
Ceritanya berfokus pada sosok Rusmiati yang mengambil jalan gelap ilmu Kuyank demi ambisi keabadian. Keputusannya tersebut justru menjadi awal dari teror berdarah bagi desanya. Menariknya, film ini juga membawa Rio Dewanto untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Kalimantan. Rio sempat berbagi cerita bahwa ia sangat terkesan dengan keramahan warga Banjar, meski sempat dibuat heran karena menemukan banyaknya warung "Wong Solo" di sana—sebuah realitas unik yang terasa sangat dekat dengan keseharian kita.
Membedah Saranjana Cinematic Universe (SCU)
Darihati Films (DHF) selaku rumah produksi sepertinya memang memiliki mimpi besar setara Marvel atau Conjuring Universe. Melalui Saranjana Cinematic Universe (SCU), mereka membangun ekosistem di mana satu film memperkuat film lainnya. Ini menunjukkan profesionalisme produksi yang jauh lebih matang ketimbang sekadar membuat sekuel dadakan karena tren.
Secara teknis, film Kuyank ini memang bukan kelanjutan cerita langsung dari karakter-karakter di film Saranjana: Kota Ghaib. Namun, keduanya bernapas dalam satu semesta yang sama. Produser sengaja memplot entri kedua ini untuk memperluas mitologi kemistisan Kalimantan yang sudah dibuka pintunya oleh kesuksesan film pertama.
Label prequel menjadi penegas bahwa secara lini masa (timeline), kita diajak mundur sejenak. Alih-alih melompat ke masa depan, kami diajak melihat "akar" dari elemen mistis yang sempat disinggung tipis-tipis di film Saranjana. Sebuah langkah yang cerdas untuk membangun fondasi cerita yang lebih solid.
Visual dan Kekuatan Folklore yang Membumi
Jika Saranjana sebelumnya memanjakan mata dengan kemegahan kota ghaib yang futuristik, Kuyank hadir dengan nuansa yang lebih "membumi" dan brutal secara folklore. Kami mengapresiasi bagaimana horor ini berupaya lepas dari formula klasik "rumah tua atau dosa masa lalu" yang mulai jenuh.
Kekuatan utama SCU terletak pada riset lokal. Kuyank memang bukan mitos baru, namun membawanya ke layar lebar dengan standar world-building yang serius tentu membutuhkan kedalaman data. Tantangan terbesarnya tentu ada pada tim VFX.
Secara realistis, menampilkan sosok kepala terbang dengan organ dalam yang menjuntai agar terlihat nyata adalah tugas berat. Mungkin belum sehalus produksi studio raksasa luar negeri, namun keberanian untuk keluar dari zona nyaman "hantu kain putih" dan mengeksplorasi teknis visual yang rumit ini patut kami acungi jempol.
Pada akhirnya, Kuyank bukan sekadar tontonan horor pengisi waktu luang di bioskop Semarang. Ia adalah bukti bahwa sineas kita mulai berani bicara soal konsistensi dunia fiksi yang luas dan berakar pada kekayaan budaya sendiri.
Artikel terkait :
- 🗓 Daftar Film Indonesia yang Rilis 29 Januari 2026 di Bioskop Kota Semarang
- 💻 Esok Tanpa Ibu (Mothernet): Ketika Kecerdasan Buatan Mencoba Menggantikan Kasih Sayang
- 🚨 [UPDATE] Tolong Saya! (Dowajuseyo) Ternyata Diputar di Bioskop NSC Mangkang Semarang
- 🎬 Menanti Oase Film Lokal di NSC Mangkang: Harapan yang Masih Menjadi PR
- Lainnya
.jpg)

Komentar
Posting Komentar