🎬 Bertahan 3 Hari di DP Mall XXI, Film 'Taboo' dan Tanda Film yang Kurang Diminati Penonton Semarang
Dari sekian banyak judul yang hadir, film Taboo (Taboo: The Silent Day) sebenarnya membawa amunisi yang sangat menjanjikan di atas kertas. Film ini menghadirkan kolaborasi lintas negara antara Indonesia dan Korea Selatan di bawah komando sutradara Park Kyung-kun. Tak hanya itu, deretan pemerannya juga memadukan nama-nama dari kedua negara, seperti Kwon Da-ham, Hwang Ha-jung, hingga Della Dartyan dan Sujiwo Tejo.
Secara konsep, keputusan menjadikan Bali dan tradisi/suasana Nyepi sebagai latar cerita horor supranatural adalah sebuah nilai jual (unique selling point) yang terbilang segar. Sebuah eksperimen narasi yang seharusnya punya daya pikat tinggi bagi penikmat bioskop lokal.
Namun, cerita di atas kertas sering kali berbanding terbalik ketika berhadapan dengan realita layar lebar.
"Promosi Siluman" dan Judul yang Kurang Menggigit
Satu hal yang cukup mengganjal dari kedatangan Taboo adalah pola pemasarannya. Film ini seolah-olah "ujuk-ujuk" muncul di daftar jadwal tayang tanpa kehebohan yang berarti. Jikapun ada kampanye promosi yang dijalankan, gaungnya terbilang sangat minim hingga tak sempat tertangkap oleh radar pencinta film di daerah.
Selain faktor pemasaran yang sepi, pemilihan judul Taboo juga disinyalir ikut mempengaruhi minat calon penonton. Di tengah gempuran film horor lokal yang belakangan gencar menggunakan frasa daerah, mantra, atau kalimat pemicu rasa penasaran, judul satu kata yang terdengar generik dan asing ini kurang memberikan gambaran emosi atau "kegelapan" yang dicari oleh audiens horor Indonesia.
Rekam Jejak di Semarang: Ujian di XXI DP Mall
Dari kacamata bioskop di Kota Semarang, Taboo sebenarnya mendapatkan panggung yang sangat strategis. Film ini diberi alokasi layar di DP Mall XXI, salah satu bioskop paling populer dan menjadi indikator utama lalu lintas penonton di pusat kota. Menempatkan film kolaborasi di bioskop dengan profil penonton yang beragam seperti DP Mall tentu menjadi angin segar.
Sayangnya, potensi tersebut tidak berbuah manis.
Tayang perdana pada hari Kamis (17/9), masa edar Taboo berjalan sangat singkat
Kembalinya Fenomena "Indikator 3 Hari"
Di pasar bioskop lokal, durasi penayangan selama 3 hari bukanlah sebuah rekor
Fenomena film yang hanya bertahan 3 hari seperti ini sebenarnya sudah cukup lama tidak terlihat di Semarang
Menariknya, di pekan yang sama saat Taboo terhenti di hari ke-3 di DP Mall XXI
![]() |
| Postingan aslinya klik di sini |
Catatan Arsip
Kehadiran Taboo di Semarang menjadi pengingat kembali tentang dinamika pasar bioskop lokal yang praktis dan tanpa kompromi
Pada akhirnya, keputusan XXI DP Mall untuk menyita layar Taboo hanya dalam waktu 3 hari mempertegas satu hal: di balik megahnya gedung bioskop, tingkat okupansi kursilah yang menentukan sejauh mana sebuah karya bisa bertahan.
Artikel terkait:
- 🗓️ Pekan Ketiga September 2026: 5 Film Baru Rilis, Mana Saja yang Tayang di Semarang?
- 🎬 Mengangkat Isu AI dan Anak-Anak, Film 'Akal Imitasi' Malah Cuma Bertahan 2 Hari di Semarang
- 💻 Esok Tanpa Ibu (Mothernet): Ketika Kecerdasan Buatan Mencoba Menggantikan Kasih Sayang
- 🍿 Harusnya Horor Bertahan 28 Hari di Bioskop Kota Semarang
- Lainnya


Komentar
Posting Komentar