Postingan

Menampilkan postingan dengan label Hari Film Nasional

🎬 76 Tahun Hari Film Nasional: Catatan Realistis dari Layar Bioskop di Semarang

Gambar
Tidak terasa, 76 tahun sudah berlalu sejak keberanian Usmar Ismail mematangkan syuting pertama Darah dan Doa , yang kemudian kita kenal sebagai tonggak Hari Film Nasional. Memasuki tahun 2026, ada rasa optimisme yang membuncah di balik angka-angka pencapaian industri layar lebar kita. Namun, apakah keriuhannya benar-benar sampai ke sudut-sudut kota, khususnya di Semarang? Gegap Gempita yang Terasa Sunyi   Pertama-tama, kami ingin mengucapkan Selamat Hari Film Nasional 2026 kepada seluruh sineas dan pecinta sinema tanah air. Jujur saja, saat menulis artikel ini, kami merasakan ada sesuatu yang berbeda. Antusiasme di media sosial terasa tidak semasif tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, saat kami mencoba menelusuri tema resmi dari Kemendikbudristek atau organisasi perfilman terkait, informasi tersebut seolah terselip atau mungkin memang belum muncul di permukaan pencarian internet kami. Apakah momentum tahun ini memang sengaja dibuat lebih "tenang", ataukah kita sedang kehilangan fo...

Hari Film Nasional 2025: Setelah Film Indonesia Jadi Tuan Rumah, Lalu?

Gambar
Sedikit terlambat menyadari jika Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret sudah terlambat kami ucapkan. Dan juga, tahun ini kami tidak menuliskannya di blog utama. Apakah kehabisan bahan tulisan? Rasanya kami ingin membiarkannya berlalu begitu saja. Namun karena sebuah artikel yang dipublish di laman detik.com , mendadak kami jadi terinspirasi. Judul tambahan Hari Film Nasional datang dari postingan tersebut yang rupanya ditulis oleh Ervan Ismail, Ketua Komisi II Lembaga Sensor Film. Setelah jadi tuan rumah, lalu apa? Kalimat ini yang menyentak kami untuk menjadikannya tema di Hari Film Nasional yang sekarang rasanya tak perlu seperti dulu kami perjuangkan. Dulu saat kami hadir dengan nama Kofindo, kami berusaha mengajak muda-mudi Kota Semarang untuk pergi ke bioskop. Dari sekedar nonton bersama hingga terlibat diskusi yang membahas tentang film Indonesia. Kata 'Tuan Rumah' menjadi pelecut kami semua saat itu. Karena kita tahu bahwa film Indonesia masih seperti anak ...