💻 Esok Tanpa Ibu (Mothernet): Ketika Kecerdasan Buatan Mencoba Menggantikan Kasih Sayang
Film ini mengambil latar yang sangat relevan dengan tren global saat ini. Rasanya, inilah film panjang Indonesia pertama yang berani mengadopsi isu tersebut ke layar lebar secara mendalam. Tak tanggung-tanggung, jajaran pemerannya pun tidak kaleng-kaleng, ada nama Dian Sastrowardoyo dan Ringgo Agus Rahman di sana.
Hingga hari ke-12 saat postingan ini kami publikasikan, Esok Tanpa Ibu (Mothernet) masih bertahan menghiasi layar bioskop di Semarang. Di tengah kepungan genre horor yang mendominasi pasar, kehadiran drama berbalut Sci-Fi AI ini seolah menyeruduk masuk membawa pembeda yang segar.
Kita tahu di era sekarang, sebagian besar dari kita sudah hidup berdampingan dengan AI. Entah itu ChatGPT, Gemini, Deepfake, Grok, dan sebagainya. Kami sendiri pun seringkali memanfaatkan teknologi AI dalam setiap pengembangan ide yang ingin kami jadikan artikel. Lalu, muncullah film ini yang memberi sentuhan teknologi tersebut ke dalam naskahnya.
Pertama di Indonesia?
Di halaman ini, kami ingin lebih menyoroti tentang aspek AI yang dipakai dalam cerita filmnya. Kami rasa, ini adalah film panjang Indonesia pertama yang menjadikan Artificial Intelligence (AI) sebagai jantung konflik emosional, bukan sekadar pelengkap visual atau gimik kecanggihan semata.
Memang sebelumnya kita pernah melihat film bertema teknologi atau futuristik (seperti Foxtrot Six), namun biasanya lebih condong ke arah action atau distopia politik. Esok Tanpa Ibu berbeda karena ia masuk ke ranah Human-AI Interaction. Film ini menjadi pionir yang berani membedah sisi psikologis: apakah algoritma benar-benar bisa menggantikan empati seorang ibu?
Yang lebih menarik, film ini mengangkat isu digital afterlife. Di dunia nyata, teknologi ini mulai dikembangkan—seperti deepfake atau chatbot memori. Film ini membawa diskursus global tersebut ke dalam konteks budaya Indonesia yang sangat menjunjung tinggi figur ibu.
AI Sebagai Pemeran Utama
Jujur, kami sendiri sebenarnya belum menonton filmnya secara langsung di bioskop. Namun melihat cuplikan trailer dan berbagai referensi yang beredar, ceritanya berfokus pada upaya seorang anak untuk "menghidupkan" kembali memori ibunya lewat bantuan teknologi.
AI di sini ditampilkan bukan sebagai robot masa depan yang keren dan bombastis, melainkan tentang bagaimana melihat sisi kerapuhan manusia. Muncul sebuah pertanyaan besar yang sangat filosofis: Apakah data bisa menggantikan rasa? Apakah sekumpulan rekaman suara dan video sudah cukup untuk menyebut seseorang kembali "hidup"?
Kolaborasi Regional yang Serius
Proyek ini digarap dengan sangat serius. Diproduksi oleh BASE Entertainment bersama rumah produksi milik Dian Sastro, Beacon Film, mereka juga menggandeng Refinery Media asal Singapura.
Keterlibatan perusahaan asal Singapura ini memberikan sinyal bahwa aspek teknis dan visual AI-nya digarap dengan standar tinggi. Sebagaimana kita tahu, Singapura dan Taiwan memang selangkah lebih maju dalam integrasi teknologi di industri kreatif mereka. Belum lagi kehadiran Gina S. Noer sebagai penulis naskah, yang seolah menjadi jaminan bahwa cerita ini tidak akan menjadi "pamer teknologi" yang dingin, melainkan sebuah drama yang mengaduk-aduk perasaan.
Perfilman Indonesia tahun ini terasa sangat dinamis dengan hadirnya genre fantasi atau Sci-Fi berbalut AI seperti ini. Awalnya kami mengira ini hanya fiksi ilmiah biasa, ternyata merupakan kolaborasi lintas negara yang prestisius. Sebagai informasi tambahan, sang sutradara, Ho Wi-ding, merupakan sineas asal Malaysia yang berbasis di Taiwan (dikenal lewat karya Cities of Last Things).
Bagaimana menurutmu yang sudah menonton filmnya di bioskop Semarang? Apakah eksekusi teknologinya sesuai ekspektasi atau justru bikin kamu makin merenung tentang masa depan AI?
Artikel terkait :
- 🗓 3 Film Indonesia Baru Rilis 22 Januari 2026: Ada Dian Sastro hingga "Kawan" Kami Agus Mulyadi
- 🚨 [UPDATE] Tolong Saya! (Dowajuseyo) Ternyata Diputar di Bioskop NSC Mangkang Semarang
- 🎬 Menanti Oase Film Lokal di NSC Mangkang: Harapan yang Masih Menjadi PR
- 🎬 Mengapa Comic 8 Revolution "Layu" di Bioskop Semarang?
- Lainnya

Komentar
Posting Komentar