ðŠĶ Toko Perlengkapan Mayat, Film Indonesia Ke-3 yang Absen di Bioskop Semarang Tahun 2026
Setelah beberapa bulan layar bioskop Semarang konsisten menyapu bersih hampir semua rilisan nasional, kabar film absen kembali datang. Kali ini giliran film bergenre horor—genre yang padahal hampir tidak pernah luput mengisi slot tayang tiap hari Kamis. Film berjudul Toko Perlengkapan Mayat resmi menjadi film Indonesia ketiga di tahun 2026 yang tidak singgah di kota ini.
Dirilis mulai 6 Agustus 2026, film berdurasi 79 menit ini digarap oleh sutradara Surya Darmawan di bawah bendera YC Entertainment dan Affor Entertainment. Lewat cuplikan trailer-nya, nuansa lokalitas khas Makassar terasa sangat pekat. Jajaran pemerannya pun diisi oleh bakat-bakat lokal tanpa kehadiran aktor A-list Jakarta yang familier di mata penonton umum.
Mitos Lokalitas Makassar dan Tumbal Toko
Secara premis, Toko Perlengkapan Mayat terinspirasi dari mitos serta fenomena perkotaan di Sulawesi, di mana keberadaan toko penyedia perlengkapan jenazah kerap diselimuti desas-desus mistis masyarakat sekitar.
Ceritanya berpusat pada sosok Daeng Sarro (Armhada Sijaya) yang ingin melariskan usaha toko perlengkapan mayat miliknya. Pilihan berniat instan ini menuntut ritual tumbal potongan tubuh yang berisiko tinggi. Bukannya membawa keberkahan, ikatan gaib tersebut justru berubah menjadi teror malapetaka yang mengincar keturunannya.
Eksplorasi Lokalitas yang Terbentur Distribusi dan Visual
Melansir laman resmi XXI, pemutaran film ini memang sangat terbatas dan hanya menyasar dua kota, yakni Makassar dan Medan. Sungguh disayangkan, mengingat horor berbasis tradisi serta mitos lokal daerah punya nilai jual otentik yang segar dibanding pakem horor Jawa yang kerap mondar-mandir di bioskop.
Namun, di luar jangkauan distribusinya yang sempit, kemasan promosinya juga memberi catatan tersendiri. Penggunaan kata "Toko" pada judul terasa kurang mengikat ketika disandingkan dengan desain posternya. Visual yang menampilkan sosok perempuan dikelilingi figur kegelapan terasa agak melenceng (disconnect) dari ekspektasi bayangan sebuah toko—seperti deretan kain kafan, keranda, atau perlengkapan pemakaman bernuansa dingin yang dicekam penampakan.
Absennya film ini di layar XXI, CinÃĐpolis, hingga jaringan independen seperti NSC Semarang memberikan gambaran nyata soal ketatnya persaingan bioskop komersial. Ketika promosi nasional minim dan star power absen, film bernuansa regional kerap harus puas berjuang di pasarnya sendiri. Namun bagaimanapun, keberanian menyajikan horor berlatar kultur lokal Sulawesi tetap patut diapresiasi sebagai keragaman sinema Indonesia.
Artikel terkait:
- ð️ Layar Bioskop Semarang: Film Indonesia Terbaru Minggu Pertama Agustus 2026
- ✉️ Silent Dance, Tarian Jiwa-Jiwa yang Merdeka: Saat Layar Independen Menjadi Penyelamat Karya
- ✉️ Uang Passolo, Film Pertama yang Tidak Tayang di Bioskop Kota Semarang Tahun 2026
- ð Nasib Tragis Film Crocodile Tears di Semarang: Hanya Bertahan Satu Malam!
- Lainnya

Komentar
Posting Komentar