2 Bulan Bertahan di Bioskop Semarang, Film Asih 2 Hanya Mengantongi 247 Ribu Penonton

Sejak dirilis tanggal 24 Desember 2020, film Asih perhari ini (19/2/21), akhirnya sudah keluar dari bioskop, khususnya Semarang. Total waktu bertahannya adalah 2 bulan atau 8 Minggu. Lamanya bertahan sayangnya tidak membuat film berdurasi 104 menit ini membawa banyak jumlah penonton.

Kejayaan film Indonesia bergenre horor tidak mampu membuat cerita yang sama seperti sebelum pandemi. Kita tahu, genre ini sedang bagus-bagusnya. Puncak tertingginya pun langsung diberi piala.

Lalu, menengok film yang pertama dengan raihan jutaan penonton juga sudah seharusnya menjadi daya pikat tersendiri untuk dapat menarik penonton pergi ke bioskop. 

Namun pandemi, sekali lagi meruntuhkan harapan tersebut. Meski begitu, kami bersyukur ada film dari negara kita yang mewakili daftar film yang diputar di bioskop selama pandemi yang akhirnya diperbolehkan kembali buka bioskopnya. 

Semua bioskop di Kota Semarang

Dua bulan adalah waktu paling lama sebuah film Indonesia dapat bertahan di bioskop. Terkadang, beberapa film ada yang hanya bertahan 3 hari saja. Bisa dikatakan film Asih 2 memiliki sedikit prestasi, khususnya saat pandemi begini.

Di Semarang, film ini banyak mendapatkan semua layar di seluruh bioskop. Rekam jejaknya yang sukses dari film pertamanya adalah garansi resmi agar menarik perhatian penonton.

Mulai dari bioskop Central City hingga Transmart Setiabudi, memutar film yang kisahnya diangkat dari novel Risa Saraswati. 

Terima kasih film Asih 2 yang bertahan sangat lama di bioskop. Hingga halaman ini kami tulis, film Asih 2 masih diputar di Kota lain.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🎟️ Perlawanan Film Drama, Tunggu Aku Sukses Nanti Tembus 1 Juta Penonton

🚀 Tayang Perdana di Semarang, Film Tunggu Aku Sukses Nanti Kuasai Seluruh Layar

🗓️ Dominasi Horor Komedi dan Nasib Drama di Bioskop Semarang Minggu Ketiga April 2026

Daftar Film Indonesia yang Tembus Box Office Tahun 2026

📽️ Hanya Bertahan 6 Hari, Yohanna dan Realitas Layar Komersial di Semarang