🎟️ Film Perumahan Laddaland Tayang 19 Hari di Semarang, Cerita Dapat Napas Kedua

Perjalanan sebuah film di layar bioskop Kota Semarang kerap menyimpan cerita menarik di balik angka penonton yang dirilis ke publik. Salah satu contoh palinganyar terlihat dari peredaran film horor Perumahan Laddaland garapan sutradara Awi Suryadi produksi MD Pictures yang rilis perdana pada pertengahan Agustus lalu. 

Ada dinamika distribusi yang tidak biasa, terutama ketika sebuah film yang sempat dinyatakan turun layar justru mendapatkan napas kedua berkat jaringan bioskop independen.

Jika ditarik dari catatan peredarannya di Semarang, film yang dibintangi Andri Mashadi dan Titi Kamal ini mengawali hari pertama penayangannya pada Kamis, 13 Agustus 2026, dengan menempati 6 layar bioskop sekaligus. 

Respons penonton pada awal pemutaran sempat menunjukkan tren positif ketika jumlah titik penayangan bertambah 3 bioskop pada hari kedua, membuat totalnya sempat menyentuh 9 bioskop di penjuru kota.

Di Kota Semarang, film Perumahan Laddaland rilis di 6 bioskop :

  1. Mangkang
  2. Java
  3. Citra
  4. DP
  5. Queen
  6. Uptown
  7. Central City (hari ke-2)
  8. Majapahit (hari ke-2)
  9. Setiabudi (hari ke-2)

Kendati demikian, ketatnya persaingan layar dengan film-film baru membuat laju Perumahan Laddaland mulai tersendat. Memasuki hari ketujuh penayangan, dua bioskop terpantau sudah mencopotnya dari daftar putar, menyisakan 7 lokasi bertahan. 

Postingan aslinya klik di sini.

Hingga akhirnya, pada hari ke-12, film ini resmi turun layar dari peredaran bioskop mainstream di Kota Semarang dengan catatan masa tayang utama selama 11 hari.

Menariknya, kisah film ini tidak langsung berhenti di situ. Selang dua hari kemudian, jaringan bioskop independen NSC Mangkang memberikan kejutan dengan kembali membuka layar dan menayangkan film tersebut selama 8 hari penuh. 

Langkah ini sekaligus menggenapi akumulasi total masa penayangan Perumahan Laddaland di Kota Semarang hingga bertahan selama 19 hari.

Postingan aslinya klik di sini.

Fenomena hidup kembali di bioskop pinggiran atau independen seperti ini sudah beberapa kali terjadi sepanjang tahun ini. Muncul pertanyaan di kalangan penikmat sinema lokal, apakah pola jemput bola ini semata-mata demi mengejar tambahan angka penonton secara kumulatif, atau sekadar memperpanjang durasi edar agar tidak cepat tenggelam? 

Apapun alasannya, strategi ini membuktikan bahwa kantong-kantong penonton di luar pusat kota masih menjanjikan ruang hidup bagi film nasional yang masa edarnya tergilas di mal-mal besar.

Artikel terkait:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🎬 Sensasi Nonton Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Pengalaman Pertama Nonton Horor Eksorsisme Katolik

🗓️ Pekan Keempat Oktober 2026: 4 Film Indonesia Rilis Bersamaan di Bioskop Semarang, Pirunduk Curi Perhatian

🎉 Tembus 1 Juta Penonton di Hari ke-19, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Resmi Masuk Jajaran Box Office 2026

🎟️ Mengenal Cinema Day 27 Oktober: Momen Diskon Tiket Nonton Serentak Pertama di Indonesia

🎬 Film Ikatan Darah dan Nasib Genre Action yang Kian Sunyi di Bioskop Semarang